Kamis, 16 Desember 2010

pengantar ilmu pertanian


PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN PERTANIAN
Pengertian dan Ruang Lingkup Pertanian
Pertanian adalah sebagai suatu usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi manusia. Dalam arti sempit pertanian adalah "bercocok tanam". Pertanian dalam arti luas meliputi pertanian tanaman, perkebunan, perikanan, peternakan dan kehutanan.
Ciri-ciri suatu kegiatan pertanian adalah:
1. dalam proses produksi harus terbentuk bahan-bahan organik dari zat anorganik dan bantuan tumbuhan atau hewan
2. adanya usaha manusia untuk memperbaharui proses produksi yang bersifat "reprodukti" dan "budidaya".
Sejarah Perkembangan Pertanian
1. Setiap tanaman telah dikembangkan pada zaman prasejarah. Ini tercapai dengan dua cara yang berbeda: 1) penjinakan (domestication), yaitu dengan membawa beberapa spesies liar ke dalam budidaya atau pengelolaannya, dan 2) seleksi (selection), yaitu penangkaran yang berbeda-beda dari spesies tersebut.
2. Peradaban kuno Mesopotamia melahirkan kebudayaan yang mempengaruhi kemajuan yang pesat di bidang pertanian kuno. Ekonomi kota berkembang dengan berlandaskan teknologi pertanian yang berkiblat pada kuil-kuil sebagai pusat kekuasaan. Surplus yang terjadi telah menciptakan lembaga ekonomi dan mengembangkan sistem administrasi dan akuntansi yang didukung oleh terciptanya tulisan-tulisan yang merupakan awal kebudayaan.
3. Mesir kuno mengembangkan sistem drainase dan irigasi yang efektif serta mengembangkan alat pengolahan tanah berupa bajak kuno yang ditarik oleh tenaga manusia dan juga mengembangkan arit sebagai alat pemotong pada saat panen. Tanaman yang diusahakan antara lain tanaman hias, buah dan sayur.
4. Sistem pertanian yang berkembang di Indonesia antara lain sistem ladang, sistem tegal pekarangan, sistem sawah dan sistem perkebunan.



1.
PENGERTIAN SISTEM PERTANIAN
Ekosistem
Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan, interaksi antara makhluk hidup (organisme) dengan lingkungannya. Ekosistem yang terbentuk saat ini merupakan hasil evolusi selama jutaan tahun dari keanekaragaman spesies yang tidak terhitung jumlahnya. Dalam proses ini spesies yang tidak mampu bertahan akan punah. Kepunahan itu dapat terjadi oleh karena beberapa hal seperti tidak mampu menyesuaikan dengan kondisi iklim, rentan terhadap serangan hama dan penyakit, tidak mampu mendapatkan makanan dan energi yang cukup atau kalah bersaing dengan spesies lain yang lebih efisien. Ekosistem terus mengalami perubahan bersamaan dengan berlangsungnya proses seleksi alam. Dalam ekosistem terdapat dua komponen yang saling berhubungan/ berinteraksi satu dengan lainnya, yaitu komponen biotik dan abiotik. Komponen biotik merupakan bagian lingkungan hidup yang terdiri dari makhluk hidup yaitu tumbuhan, hewan dan manusia. Komponen abiotik adalah bagian lingkungan yang terdiri dari benda mati seperti air, tanah, udara, dan cahaya. Kedua komponen biotik dan abiotik berinteraksi membentuk suatu ekosistem yang mantap. Sebagai contoh pada lingkungan di mana manusia hidup terdapat komponen air, tanah, udara, cahaya, tumbuhan, hewan, dan manusia lainnya. Ketidakserasian hubungannya dengan komponen lain yang ada dalam lingkungan hidupnya dapat menyebabkan terganggunya kesejahteraan manusia. Terjadinya bencana alam dibeberapa tempat pada waktu bersamaan merupakan gambaran ketidakharmonisan interaksi ke dua komponen tersebut
Ragam Ekosistem Pertanian
Apabila manusia mengadakan usaha pertanian maka ia memerlukan lahan usaha yang biasanya diambil dari suatu ekosistem alam yang sudah ada dalam kesetimbangan. Kalau lahan itu diambil dari hutan, maka yang biasanya dilakukan adalah menebang pohon-pohon yang ada di hutan tersebut kemudian menanami lahan yang terbuka dengan tanaman yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Perubahan dalam sistem pertanian menimbulkan banyak masalah yang tidak dapat diatasi oleh pola pertanian secara tradisional. Praktik-praktik pertanian tradisional ini sering dianggap statis, seakan-akan dicapai secara kebetulan pada suatu saat dalam proses evolusi dan ditiru tanpa pertimbangan lebih jauh dari generasi ke generasi. Pola pertanian tradisional ini terbukti tidak berkelanjutan, tidak dapat dipertahankan karena sistem ini akan mengakibatkan perubahan kondisi lingkungan dan tekanan dari peningkatan populasi penduduk yang melebihi kapasitas daya dukung. Pada waktu ini kita temui berbagai sistem yang berbeda baik tingkat efisiensi teknologinya maupun tanaman yang diusahakan. Sistem pertanian dan aktivitas-aktivitas yang terkait ditentukan oleh tanah, iklim, tenaga kerja, modal, yang kesemuanya diupayakan untuk menjaga kesetimbangan lingkungan.



2.
PERANAN ENERGI DALAM PRODUKSI PERTANIAN

Aktivitas fisiologis Tanaman
Seluruh aktivitas fisiologis tanaman membutuhkan energi. Sebagai sumber energi utama yang mendukung proses aktivitas fisiologis adalah matahari. Tanaman memiliki kemampuan menyerap energi matahari 15%-22% untuk proses kehidupannya dan memfotosintesis 2%-5% dari radiasi matahari yang masuk untuk pembentukan makanan. Energi yang diperoleh tanaman oleh makhluk herbivora lainnya mengubah materi tanaman menjadi materi hewan dan proses ini berlanjut terus sampai kemudian dapat dikonsumsi oleh makhluk karnivora termasuk manusia.
Aliran Energi dalam Pertanian
Aliran energi dalam pertanian merupakan kunci keseimbangan energi di ekosistem secara keseluruhan. Seluruh kegiatan pertanian yang ditunjukkan untuk memperoleh produksi maksimum per unit satuan luas tertentu dari tanah pertanian, yaitu dengan (1) melakukan tata cara bertani menggunakan teknologi yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh keuntungan maksimum, (2) menekan sekecil kecilnya ketidakmantapan dalam produksi pertanian, dan (3) mencegah penurunan kapasitas produksi tetapi secara langsung juga tidak mengorbankan keseimbangan. Kebutuhan makanan semua bentuk kehidupan di alam harus diusahakan berada dalam keseimbangan. Energi surya yang diserap oleh tumbuhan hijau yang berfotosintesis disalurkan ke berbagai macam makhluk hidup lain. Penyalurannya ada yang melalui jalur sederhana dan ada yang melalui jalur yang agak rumit dengan menelusuri berbagai macam kehidupan dalam biosfer. Akan tetapi, semua energi akan diradiasikan kembali ke ruang angkasa. Bila daur energi ini terganggu, suhu bumi akan meningkat dengan tajam yang mengakibatkan ekosistem akan terganggu. Zat-zat anorganik dari dalam tanah, air, dan udara akan diserap oleh tumbuhan hijau; kemudian sebagian digunakan dalam proses fotosintesis sebagai penyusun molekul organik sederhana maupun kompleks. Hasil fotosintesis, kemudian dikonsumsi oleh makhluk sederhana (jasad renik) sampai ternak dan manusia.







3.
BAHAN PANGAN MANUSIA

Ekologi Pangan
1. Pangan merupakan kebutuhan esensial bagi manusia, sumber energi metabolisme, juga menjadi unsur kebudayaan dan mempunyai nilai sosial serta ekonomi.
2. Untuk memenuhi kebutuhan pangan dari masyarakat primitif sampai masyarakat modern, melalui beberapa tahap yaitu pemburu dan pengumpul, perladangan berpindah, pertanian menetap.
Zat Gizi Manusia
1. Orang mengkonsumsi zat gizi yang terkandung dalam pangan untuk memberikan energi kepada tubuh, mengatur proses-proses dalam tubuh, untuk perkembangan dan membantu memperbaiki jaringan tubuh.
2. Zat gizi dibagi dalam enam kelas utama yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, air
3. Gizi kurang dan gizi lebih digolongkan pada peristiwa malagizi
Tanaman dan Ternak Utama di Dunia
1. Tanaman adalah tumbuhan yang sengaja ditanam manusia untuk mendapatkan hasil.
2. Ternak adalah hewan yang dipelihara manusia dengan sengaja untuk mendapatkan hasil dari tubuh.
3. Pusat asal-usul suatu tanaman dicirikan oleh adanya keragaman bentuk tanaman.




4.
PERANAN PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI

Peranan Sektor Pertanian Terhadap Peningkatan Pendapatan dan Kesejathteraan Masyarakat
1. Sektor pertanian dan perdesaan diharapkan sebagai tempat penyerapan tenaga kerja terbesar dalam upaya membantu mengatasi masalah pengangguran. Dengan demikian sektor pertanian dan perdesaan dapat diharapkan menjadi penopang utama sistem perekonomian nasional, sekaligus mendorong ke arah pengentasan kemiskinan.
2. Sektor pertanian dan perdesaan juga berfungsi sebagai penghasil makanan pokok untuk mengurangi ketergantungan pangan kepada pasar dunia sehingga sektor pertanian terkait dengan stabilitas, perekonomian nasional.
3. Peran strategis lainnya dalam pembangunan pertanian dan perdesaan yang tangguh adalah mendorong ekspor dan mengurangi impor produk pertanian, meningkatkan jumlah devisa dan sekaligus akan meningkatkan pembangunan wilayah.
4. Dengan meningkatkan pembangunan pertanian dan perdesaan akan memberikan implikasi kepada peningkatan kinerja sektor industri karena terdapat keterkaitan yang erat antara sektor pertanian dengan sektor industri.
5. Mengingat pentingnya sektor pertanian dan perdesaan dalam perekonomian nasional, maka sudah sewajarnya sektor pertanian dan pedesaan dijadikan motor penggerak pembangunan ekonomi bangsa.
6. Ketahanan pangan merupakan ukuran kemakmuran masyarakat.
7. Revitalisasi pertanian dalam arti luas dapat menjamin kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat di negara agraris seperti Indonesia.
Peranan Sektor Pertanian dalam Ekspor Nonmigas
1. Mendorong minat investasi di sektor pertanian dilakukan dengan: menyederhanakan prosedur investasi, peningkatan kepastian hukum, serta perbaikan kualitas infrastruktur, memberikan beberapa insentif dalam bentuk keringanan pajak, memberi tax holiday kepada investor di sektor pertanian, memudahkan informasi dan teknologi, dan bantuan studi kelayakan. Tantangan yang berkaitan dengan kesenjangan sosial dan ekonomi antar wilayah, kesenjangan antarkelompok dan individu secara bertahap harus diminimalkan agar tercipta iklim yang kondusif yang mampu mensinergikan semua potensi negeri ini untuk mengakselerasi pertumbuhan positif yang progresif di segala bidang.
5.
2. Ekspor nonmigas adalah salah satu mesin utama penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Pemerintah harus memiliki komitmen untuk meningkatkan pertumbuhan ekspor nonmigas secara simultan melalui beberapa cara:
a. Meningkatkan daya saing produk yang kuat, agar dapat meluaskan pasar, menjamin harga lebih kompetitif, berkualitas dan diversifikasi produk.
b. Meningkatkan promosi: melalui pameran internasional di luar negeri misalnya pameran usaha kecil menengah (UKM), dan mengatur waktu pameran produk ekspor agar ada kesinambungan
c. Memperbaiki sistem penerimaan dan pengiriman barang di pelabuhan.
d. Memperluas pasar ekspor termasuk pariwisata.
3. Usaha mengejar target menggenjot devisa hingga 9 miliar US$ hingga tahun 2005, tidak dapat berjalan sendiri, tetapi harus didukung oleh kebijakan pemerintah melalui kemudahan pajak dan nonpajak yang kesemuanya berorientasi untuk meningkatkan gairah pengumpulan devisa bagi negara.
Peranan Sektor Pertanian terhadap Peningkatan Produk Domestik Bruto
1. Sektor pertanian cukup strategis sebagai pemacu pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB). Dalam sepuluh tahun terakhir peranan sektor ini terhadap PDB menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik, yaitu rata-rata 4% per tahun. Sejalan dengan itu, maka dirasakan perlunya secara konsisten melakukan pergeseran paradigma pembangunan ekonomi dan sektor pertanian yaitu dari orientasi produksi ke pendapatan, dari sentralistik ke desentralisasi, dari swasembada pangan ke ketahanan pangan, dari pendekatan komoditi ke pendekatan agribisnis, dari dominasi pemerintah ke swasta, dari pertanian konvensional ke pertanian modern berkelanjutan.



6.
DAFTAR PUSTAKA
PENGERTIAN DAN SEJARAH PERKEMBANGAN PERTANIAN
Dudung, A.A. (eds) (2001). Membangun Pertanian Modern. Jakarta: Yayasan Pengembangan Sinar Tani.
Chapman, SR and LP. Carter. (1982). Crop Production. Principles and Practices. Delhi: Surjet Publications.
Dove, M. K. (1988). Sistem Perladangan di Indonesia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Geertz C. Involusi Pertanian. Proses Perubahan Ekologi di Indonesia. Diterjemahkan oleh S. Supomo. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.
Haryadi, S.S. (1996). Pengantar Agronomi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Janick, J, R. W. Schery, F. W. Woods, and V. W. Ruttan. (1974). Plant Science. An Introduction to World Crops. San Francisco: W. H. Freeman and Company.
Kipps, MS. (1978). Productions of Field Crops. New Delhi: Tata Mc. Graw - Hill Publishing Company Ltd.
Sastrahidajat, I.R dan Soemarno. (1991). Budidaya Tanaman Tropika. (Surabaya ) Usaha Nasional.
Nasoetion, A.H. (1991). Pengantar ke Ilmu-Ilmu Pertanian. Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa.
PENGERTIAN SISTEM PERTANIAN
Budiyanto, N. (2002) dalam http://www.pemda-diy.go.id/berita. (4 Maret 2005). Usaha Pertanian Menuju Ambang Kerawanan.
http://www.lablink.or.id/Agro. (29 Juni 2001). Perkembangan Pertanian dari Zaman ke Zaman.
http://www.walhi.or.id/kampanye. (17 September 2004). Reformasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).
7.
irri-sbw@mdp.co.id. (November 2003). Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan. Palembang: Balai Penelitian Sembawa Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 25 (4).
Iskandar, J. (2000). Kerusakan Lingkungan Mengancam Keanekaragaman Hayati. Tajuk Warta Kehati. Juni-Juli, 2000
Iskandar, U & Agung, G. (2005). Pengelolaan Sumber Daya Hutan. Badan Planologi Departemen Kehutanan dan Politik. Kompas, 5 Maret 2005.
Loomis, R. S., Connor, D.J. (1992). Crop Ecology: Productivity and management in agricultural systems. Britain: Cambridge University Press.
Nasution, A.H. (2004). Pengantar Ilmu Pertanian, (Edisi 4) Jakarta: PT Pustaka Litera Antar Nusa.
Pujiyanto. (2001). Pemanfaatan jasad mikro jamur Mikoriza dan bakteri dalam sistem pertanian berkelanjutan di Indonesia. Tinjauan dari perspektif falsafah sains. Makalah Falsafah Sains Program Pasca Sarjana/S3. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Reijntjes, C., Haverkort, B., Bayer, A.W. (1999). Pertanian Masa Depan. Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah. Jogyakarta: Penerbit Kanisius.
Ruddle & Zong. (1999). Integrated agriculture aquaculture in South China dalam Coen Reijntjes., (1999). Pertanian Masa Depan, hal. 43-45. Jogyakarta: Penerbit Kanisius.
Salikin, K.A. (2003). Sistem Pertanian Berkelanjutan. Jogyakarta: Penerbit Kanisius.
Soeriatmadja, R.E. (1981). Ilmu Lingkungan, (Edisi 3). Bandung: Institut Teknologi Bandung (ITB).
Soetrisno, T. (1988). Ekologi Pertanian. Bandung: Penerbit CV Armico.
Soetrisno, Suwandari, A., Rijanto. (2003). Pengantar Ilmu Pertanian. Agraris, Agribisnis, Industri. Bayumedia Publishing.
Subaryo, Laxman, J. (2003). Peranan Pengetahuan Ekologi Lokal dalam Sistem Agroforestri. Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia, Bogor, Indonesia.
Sutanto, R. (2002). Pertanian Organik. Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Jogyakarta: Penerbit Kanisius.
8.
webmaster@lablink.or.id. (29 Juni 2001). Sistem Pertanian di Indonesia. Laboratorium Pembangunan dan Lingkungan (Lablink).
Undang-Undang Republik Indonesia, Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. (htt://www.ypb.or.id/th/uu9723.html (20 Mei 2005).

PERANAN ENERGI DALAM PRODUKSI PERTANIAN
Budiyanto, N. (2002). Usaha Pertanian Menuju Ambang Kerawanan. http://www.pemda-diy.go.id/berita, 4 Maret 2005.
http://www.lablink.or.id/Agro. (29 Juni 2001). Perkembangan Pertanian dari Zaman ke Zaman.
http://www.walhi.or.id/kampanye, (17 September 2004). Reformasi Pengelolaan Lingkungan Hidup. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).
http://www.voctech.org.bn/virtual-lib/swisscontact/Energi/energi.htm, (14 April 2005). Energi (1999), (Edisi 2). Malang: PPPGT/VEDC Malang dan Swisscontact.
http://id.wikipedia.org/wiki/Fotosintesis, (14 April 2005). Fotosintesis. Ensiklopedia. Indonesia: Wikipedia Indonesia.
irri-sbw@mdp.co.id.November (10 April 2005). Menuju Pertanian Berwawasan Lingkungan. Palembang: Balai Penelitian Sembawa Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 25 (4).
Iskandar, J. (2000). Kerusakan Lingkungan. Mengancam Keanekaragaman Hayati. Tajuk Warta Kehati. Juni-Juli, 2000.
Iskandar, U & Agung, G. (2005). Pengelolaan Sumber Daya Hutan. Badan Planologi Departemen Kehutanan dan Politik. Kompas, 5 Maret 2005.
Loomis, R. S., Connor, D.J. (1992). Crop Ecology: Productivity and management in Agricultural Systems. Britain: Cambridge University Press.
Nasution, A.H. (2004). Pengantar Ilmu Pertanian, (Edisi 4). Jakarta: PT Pustaka Litera Antar Nusa.
Nebel, B.J. (1996). Environmental Science. (Sixth Edition.) New Yersey: by Prentice-Hall. Inc. Simon & Schuster/A Viacom Company.
9.
Reijntjes, C., Haverkort, B., Bayer, A.W. (1999). Pertanian Masa Depan. Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah. Jogyakarta: Kanisius.
Ruddle & Zong. (1999). Integrated Agriculture Aquaculture in South China dalam Coen Reijntjes. Pertanian Masa Depan, hal. 43-45. Jogyakarta: Kanisius.
Salikin, K.A. (2003). Sistem Pertanian Berkelanjutan. Jogyakarta: Kanisius.
Soeriatmadja, R.E. (1981). Ilmu Lingkungan, (Edisi 3). Bandung: Institut Teknologi Bandung (ITB).
Soetrisno, T. (1988). Ekologi Pertanian. Bandung: Penerbit CV Armico.
Soetrisno, Suwandari, A., Rijanto. (2003). Pengantar Ilmu Pertanian. Agraris, Agribisnis, Industri. Bayumedia Publishing.
Subaryo, Laxman, J. (2003). Peranan Pengetahuan Ekologi Lokal dalam Sistem Agroforestri. Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF) Southeast Asia, Bogor, Indonesia.
Sutanto, R. (2002). Pertanian Organik. Menuju Pertanian Alternatif dan Berkelanjutan. Jogyakarta: Penerbit Kanisius.
BAHAN PANGAN MANUSIA
Arintadisastra, S, dan R. Harun. (2001). Membangun Pertanian Modern. Jakarta: Yayasan Pengembangan Sinar Tani.
Dillon, HS. (1999). Pertanian Membangun Bangsa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Ewusie, J.Y. (1999). Pengantar Ekologi Tropika. Bandung: Penerbit ITB.
Fagi, AM, Irsal, L, Mahyuddin S, Makarim A.K. dan A. Hasanuddin. (2003). Penelitian Padi Menuju Revolusi Hijau Lestari. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Hanani AR, Nuhfil, J.I. Ibrahim dan M. Purnomo. (2003). Strategi Pembangunan Pertanian. Yogyakarta: Lappera Pustaka Mandiri.
Nasoetion. A.H. (1991). Pengantar ke Ilmu-Ilmu Pertanian. Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa.
10.
Reijntjes. Coen, B. Haverkort dan A. Waters-Bayer. (2003). Pertanian Masa Depan: Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Imput Luar Rendah. Yogyakarta: Kanisius.
Suhardjo. L.J Hane, B.J. Deaton, dan J.A. Driskel. (1986). Pangan, Gizi dan Pertanian. Jakarta: UI Press.
Suryana, A. (2003). Kapita Selekta: Evolusi Pemikiran Kebijakan Ketahanan Pangan. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
_________, T. Sudaryanto, dan S. Mardianto. (1997). Kebijaksanaan Pembangunan Pertanian Analisis Kebijaksanaan Antisipatif dan Responsif. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
_________, A. Pakpahan dan A. Djauhari. (1990). Diversifikasi Pertanian: Dalam Proses Mempercepat Laju Pembangunan Nasional. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Tambunan. T.T.H. (2003). Perkembangan Sektor Pertanian di Indonesia: Beberapa Isu Penting. Jakarta: Ghalia Indonesia.
PERANAN PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN EKONOMI
Biro Pusat Statistik. (2005). Monthly Exports, Imports. Press Releases. Diambil 16 Mei 2005 dari http://www.bps.go.id/releases/Monthly/
Bustanul , A. (2005). Jebakan Retorika Revitalisasi Pertanian. Kompas (2005, 23 Mei)
Balipost online. (2003). Indonesia Kehilangan Devisa Jutaan Dolar AS. Diambil 20 Mei 2005 dari http://www.balipost.co.id/balipost cetak/
Shaanxi dorong perkembangan ekonomi mengandalkan sumber daya. China Radio International (CRI). Diambil 25 April 2005 dari http://id.chinabroadcast. cn/1/2005/04/25/1@28165.htm
Rancangan rencana kerja pemerintah (RKP) Tahun 2006. Diambil 13 Mei 2005 dari http://www.bangda.depdagri.go.id./
Peluang pasar, produksi, situasi persaingan-Jambu Mete. Jakarta: Bank Indonesia. Sistem informasi pengembangan usaha kecil. Diambil 12 Mei 2005 dari http://www.bi.go.id.sipuk/lm/ind/mete/pemasaran/html

11.
Aspek Sosial Ekonomi-Jambu Mete. Jakarta: Bank Indonesia. Sistem informasi pengembangan usaha kecil. Diambil 12 Mei 2005 dari http://www.bi.go.id.sipuk/ lm/ind/mete/sosek html/
Positive 2006 Budget Forecast. Diambil 13 Mei 2005 dari http://www.kjrisoka.com/ berita-Indonesia/news/
Target devisa kehutanan hanya boleh digenjot dari HTI. Jakarta: Forest Watch Indonesia. Diambil 20 Mei 2005 dari http://www.fwi.or.id/index/
Keanekaragaman hayati sebagai aset produktif pembangunan berkelanjutan. Diambil 11 Agustus 2002 dari http;//www.polarhome.com/pipernail/ nasional/
Agribusiness Development Performance. Agribusiness Investment Opportunity Indonesia. Jakarta: Departemen Pertanian Republik Indonesia. Diambil 20 Mei 2005 dari http://www.deptan.go.id/
Ikhsan, A. (2004). Kinerja Ekspor Produk Pertanian Pasca Krisis. Jakarta: PT Bank Ekspor Indonesia (Persero). Diambil 13 Mei 2005 dari http://www.bexi.co.id/artikel/
Disiapkan Revitalisasi Pertanian Menyeluruh. Kompas (2005, 13 Mei)
Krisnamurthi, B. (2003). Rekonstruksi Kebijakan Pangan Indonesia Isyu dan Agenda. Majalah Pangan Nomor 40/XII/Januari/2003. Jakarta: Pusat penelitian dan Pengembangan Bulog.
Kuswanto, SA. (2000). Kebijakan Pertanian dalam Letter of Intent (LOI) IMF. Diambil 20 April 2000 dari http://www.indo net.id/psdal/ opini.html..









12.

TUGAS I

PENGANTAR ILMU PERTANIAN ( PIP )

LogoUnhalu3.gif

DI SUSUN

SARWAN TRISMAN
D1B110068

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HALUOLEO
2010

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar